Sunday, July 30, 2017

PANTAI ROPET




Pantai ropet merupakan bagian dari beberapa pantai yang ada di Banraas yang terletak di ujung timur desa Banraas, Sumenep pulau Gili Iyang yang berjarak sekitar 3 km dari pelabuhan Banraas. Nama Ropet berarti sempit, diambil dari kondisi pelabuhan yang  sempit dan berbentuk teluk. Pantai ropet memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang sangat mengagumkan dan tidak ada dipantai-pantai lainnya, karena pantai ropet memiliki laut yang biru bersih, bibir pantainya berkarang yang terhias oleh pohon pandan, memiliki banyak rumput laut dan terumbu karang yang indah. Bahkan ketika dipagi hari, dipantai ropet dapat menikmati sunrise. Selain dari hal itu juga pantai ropet dapat dijadikan tempat memancing ketika angin  bertiup dari arah barat .
Sejak pembabatan keberadaan pantai ropet tidak lepas dari pengaruh dan perjuangan para ulama sufi dan petapa, karena pantai ropet pernah ditempati oleh seorang petapa bernama Juk Muhammad adik dari Juk Elang Wali Nor Kutubiin Somor Tengah keturunan dari Juk Zamzam. Bahkan pantai ropet merupakan cikal bakal tertulisnya Al-Qur’an Se Jimat yang ditulis oleh seorang Ulama’ Hafidz bernama KIAI SI’IM bin SIMATI bertempat tinggal dipantai ropet.





Pada akhir Tahun 2016 bertepatan tahun baru 2017 M, atas inisiatif dan perjuangan seorang pengerak wisata Oksigen Gili Iyang Yaitu Ahyak Ulumuddin yang biasa dipanggil Kiageng Ropet. Pantai ropet dibuka dan diresmikan dijadikan wisata alam sebagai menu wisata oksigen Gili Iyang.



Hari demi hari wisata pantai ropet mulai dibenahi dengan disediakannya gazebo-gazebo dari ilalang. Adanya gazebo-gazebo wisatawan dapat duduk dengan nyaman menikmati panorama laut yang menyatu dengan darat dan diiringi deburan ombak yang sahdu, apalagi ditambah menikmati snack-snack makanan khas pantai ropet. Hal ini akan mengilangkan rasa stress dan lebih berlama-lama dipantai ropet bagi pengunjungnya.



Selain gazebo yang disediakan, pantai ropet juga menyiapkan tempat berfoto dan berselfie bersama keluarga, apalagi dipagi hari wisatawan dapat menikmati sunrise dipantai ropet karena sudah disediakan spot foto “The Sunrise Of Gili Iyang” dengan Background laut lepas dan langitnya.
Pantai ropet masih begitu asri, apalagi Gili Iyang memiliki kadar Oksigen terbaik nomor dua di dunia setelah Yordania. Sehingga udara dan suasananya bisa menghilangkan stress dan suasana yang buruk pada seseorang. Siapapun yang datang dan menikmati pantainya tidak akan pernah menyesal dan mendatangkan suasana baru di hati.



Thursday, July 27, 2017

ASAL USUL DESA BANRA'AS

 


Dahulu kala, Gili Iyang termasuk diantara pulau yang sunyi dan sepi. Di pulau yang kelak dikenal memiliki kadar oksigen tertinggi di dunia itu banyak tumbuh pepohonan yang amat besar dan unik. Pohon baru dan pohon ra’as termasuk diantara pepohon yang dominan tumbuh di pesisir pantai (baca: desa Banra’as sekarang). Konon katanya, pohon-pohon tersebut banyak dihuni oleh makhluk astral, diantaranya jin dan kuntilanak serta makhluk yang seram-seram lainnya. sementara penduduknya masih sedikit dan berkelompok-kelompok terutama bermukim disekitar pelabuhan. Pelabuhan pada saat itu yang sering disinggahi perahu adalah pelabuhan Banbaru, pelabuhan kecil yang digunakan masyarakat nelayan untuk berlabuh, sedangkan pelabuhan Legun merupakan pelabuhan besar yang sering disinggahi perahu layar dari Sulawesi, terbukti disekitar pelabuhan Legun banyak makam-makam Daeng (baca: pendatang baru dari Sulawesi Selatan).
Sekitar awal abad ke-19 pemerintah kerajaan protestan Hindia-Belanda yang saat itu menjadi penguasa di Madura-Sumenep menerapkan satu sistem baru yang dikenal dengan pemerintahan desa. Pengaruhnya sangat besar terhadap Gili Iyang. Pada masa ini tercatat dalam sejarah sebagai masa awal terbentuknya sistem pemerintahan di Gili Iyang. Di mulai dari kyai Abdul Hamid Sora Laksana, lalu dilanjutkan oleh putranya, Kyai Abd. Syahid. Seiring dengan perkembangan zaman, penduduk Gili Iyang bertambah banyak.
Maka berdasarkan hasil kesepakatan wilayah Gili Iyang dibagi menjadi dua, desa Bancamara dan desa Banra’as. Demikian ini terjadi pasca kepemimpinan Kyai Abd. Syahid bin Kyai Abdul Hamid Sora Laksana sekitar tahun 1889 M. Sejak saat itulah di Gili Iyang terbagi menjadi dua wilayah, Bancamara dan Banra’as. Nama dua desa tersebut diambil dari peristiwa/sesuatu yang menonjol di desa tersebut.
Ban atau Ben adalah/tempat, sedangkan Raas adalah nama sebuah pohon yang banyak tumbuh disekitar desa tersebut. pada perkembangan selanjutnya pohon raas yang tumbuh subur di desa tersebut ditebang guna dijadikan wahana tempat tinggal serta lahan bercocok tanam masyarakat Gili Iyang. Di sebelah utara Banraas ada pohon besar yang namanya pohon Kalompang dan bentuknya bengkok, selain sebagai tanda bagi seorang melaut, dibawah pohon itu ada goa tempat bertapa seorang Wali. Sekarang tempat itu dianggap keramat oleh masyarakat. Dengan adanya pohon unik, beda dengan pohon lain maka pohon itu dijadikan nama sebuah kampung (baca: kampung Kalompang Bongkok). Pada masa pemerintahan Bukaha, kampung atau dusun Kalompang Bongkok dirubah namanya menjadi Dusun Bongkok. Disebelah selatan Banraas yaitu dusun Asem juga diambil dari nama pelabuhan, dipelabuhan tersebut tepatnya dipinggir jalan atau pesisir pantai banyak terdapat pohon asem. Pohon asam yang dominan tumbuh di pesisir dan pinggir jalan raya itu sangat familiar ditengah masyarakat, sehingga nama pohon tersebut dikemudian hari dijadikan nama dusun yaitu Dusun Asem.
Di sebelah barat Banra’as ada pelabuhan yang disebut pelabuhan Banra’as. Nama pelabuhan itu diambil dari nama pohon yaitu Ra’as. Konon dikampung tersebut paling banyak terdapat pohon ra’as. Karena itulah tempat itu dinamakan dusun Ra’as. Dilihat dari keramaian dan perkembangan pelabuhan yang ada, Banra’as paling menonjol dibandingkan dengan yang lainnya, maka nama pelabuhan itu dijadikan nama salah satu desa di pulau Gili Iyang.

Tuesday, July 25, 2017

ASAL MULA KATA GILI IYANG


Menurut khazanah pitutur sesepuh Gili, terdapat berbagai macam versi tentang asal muasal nama Gili Iyang. Versi pertama menyatakan bahwa, nama Gili Iyang diambil dari nama Gili Elang (Red: Madura). Gili secara harfiyah berarti tempat atau daerah, sedangkan Elang (baca: Madura) berarti hilang alias tak kasat mata. Cerita mengenai asal usul nama Gili Iyang berdasarkan versi ini amat popular di lingkungan masyarakat Gili Iyang. Pendapat ini di hubungkan dengan suatu peristiwa bersejarah yaitu  perjalanan salah satu tokoh pembabat Gili Iyang, Daeng Karaeng Masalle. Ia hijrah dari Goa ke Gili Iyang dengan membawa misi dakwah, menyebarkan ajaran Islam, seraya mencari pulau yang posisi sejajar dengan garis khatulitiwa (baca: Malang Eare). Konon, ia berangkat ditempat tujuan ditemani oleh ikan besar, masyarakat Gili Iyang menyebutnya mondung tanduk/mondung pote. Berhari-hari Karaeng Masalle menyusuri selat Gili Iyang, akan tetapi pulau tujuan tersebut tidak kunjung ia temukan. Akhirnya ia memutuskan singgah di pulau Poteran, sebuah pulau yang posisinya berada di barat laut Gili Iyang. Di sana ia melakukan mujahadah selama 40 hari empat puluh malam untuk meminta petunjuk kepada Alla SWT. Setelah genap 40 hari empat puluh malam, pagi harinya Karaeng Masalle didatangi oleh seorang nenek tua, lalu nenek tua itu memberi dua lembar sirih padanya seraya memerintahkan agar sirih itu digunakan sebagai alat peneropong Gili Iyang. Tanpa ragu sedikitpun beliau langsung memakai kedua sirih itu sebagai alat peneropong hingga pada akhirnya pulau tersebut (Gili Iyang sekarang) dapat terlihat dengan terang.
            Versi kedua menyebutkan Gili Iyang atau Giliyang berasal dari kata Sere Elang (red: Madura) pendapat ini juga tak kalah popular dengan pendapat yang pertama bahkan bisa dikatakan sebagai pendapat yang banyak diceritakan secara mutawatir dari generasi kegenerasi masyarakat Gili Iyang. Pendapat ini dihubungkan dengan kisah kyai Abdul Hamid Sora Laksana, diceritakan bahwa suatu ketika pesawat tempur Belanda (sebagian riwayat menyebutnya bukan Belanda tapi Lanon) sedang menuju Gili Iyang. Kedatangan Belanda atau Lanon menurut sebagian riwayat, membuat panic bin geger masyarakat Gili Iyang. Mereka sangat khawatir kalau Lanon atau Belanda tidak dicegah, mereka bisa menjadi korban kebiadaban mereka. Sebagian masyarakat melaporkan kejadian tersebut kepada Kyai Abdul Hamid Sora Laksana di panggung (desan Bancamara sekarang). Kyai Abdul Hamid langsung dibawa ke pesisir pantai, mulanya ia meminta kepada salah satu muridnya untuk mengambil selembar sirih, lalu Kyai Hamid membaca doa tak lama kemudian langit itu menjadi mendung dan gelap. Tampak disana kapal-kapal Belanda/Lanon berputar-putar seperti kehilangan arah dan pada akhirnya kapal-kapal itu menjauh dari Gili Iyang. Peristiwa ini dikenal sebagai peristiwa Sere Elang yang dikemudian hari menjadi nama pulau tersebut.
            Versi ketiga menyebutkan bahwa, kata Gili Iyang berasal dari kata Ghile dan Iyang. Ghile secara harfiyah berarti gila alias tidak waras, sedangkan kata Iyang diartikan sebagai buyut atau nenek moyang. Konon katanya, di Gili Iyang menjadi tempat pembuangan orang-orang gila alias tidak waras sehingga banyak sekali orang gila yanga ada dipulau tersebut. Ketika Andang Taruna tiba di Gili Iyang, orang-orang yang stress bin gila itu mendapat perawatan intensif dari Jhu’ Taruna hingga akhirnya mereka normal kembali dan pada akhirnya menjadi muridnya yang setia. Karena dulu di Gili Iyang banyak dihuni orang gilamaka pulau tersebut disebut Ghile Iyang yang berarti nenek moyang yang gila.