Saturday, August 6, 2016

MASYARAKAT BANRAAS

MASYARAKAT BANRAAS
Masyarakat Banraas memiliki sifat yang sangat ramah, yang mana mereka sangat bisa menerima masyarakat atau individu lain diluar dari komunitasnya yang berada di desa Banraas Sifat ramah ini yang menjadikan masyarakat desa Banraas dapat hidup saling berdampingan dan mudah untuk melakukan interaksi dengan kelompok maupun individu lain diluar komunitas atau masyarakat desanya.
Apabila dilihat dari segi interaksi internal dari masyarakat desa Banraas itu sendiri mereka melakukan interaksi dengan sangat baik bukan hanya dalam hal komunikasi saja namun lebih dalam hal gotong royong untuk menjalin hubungan yang baik antar mereka. Dalam hal ini penulis banyak menjumpai masyarakat desa Banraas khususnya yang bermata pencaharian sebagai petani dimana mereka sering membantu antar petani untuk melakukan dalam menanam jagung. Contohnya ketika memanen jagung. Mereka saling kerja sama ketika mulai dari memanen Jagung (mencabut tumbuhan jagung dari sawah), kemudian mengangkutnya menggunakan gerobak hingga kerumah.
Selain itu contoh hal yang membuktikan bahwa desa banraas gotongroyong sangat tinggi adalah, saat seorang warga mengadakan hajatan atau pesta pertunangan seluruh warga datang kerumah orang yang mengadakan hajatan, disana mereka bersama sama membantu untuk meracik bumbu-bumbu masakan dan menyiapkan persiapan lainnya.
Masyarakat desa Banraas tidak mengenal suatu sistem kasta yang artinya suatu komunitas atau individu tertentu memiliki hak yang lebih besar dengan cara membebankan kewajiban yang lebih terhadap komunitas atau individu yang lain yang berdampak pada terjadinya ketidak seimbangan strata sosial. Tidak ada majikan dan buruh dalam penerapan kehidupan bermasyarakat di desa Banraas. Sehingga interaksi sosial dapat terlaksana dengan sangat baik dan berlangsung secara terus menerus secara harmonis. Sehingga tujuan dari bermasyarakat maupun tujuan individual dapat tercapai secara harmonis pula.
Dalam hal mata pencaharian, masyarakat desa Banraas banyak sebagai Nelayan, namun dalam hal ini biasanya dikerjakan oleh laki-laki desa dengan usia 40(empat puluh tahun) keatas. Sedangkan dalam usia  produktif antara 20(dua puluh) tahun hingga 40(empat puluh tahun) hampir sekitar 90% merantau ke kota - kota besar seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta dan lain sebagainya untuk berdagang. Salah satu faktor yang mempengaruhi para pemuda desa Banraas untuk pergi merantau ialah lahan tanah yang hanya produktif pada saat musim hujan saja, ketika musim kemarau tiba maka lahan tersebut hanya bisa ditanami kacang-kacangan yang jika dijual keuntungannya masih kurang bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka, sehingga mereka berinisiatif untuk merantau untuk mencari nafkah yang dianggap lebih bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka.
Namun ada beberapa kekurangan dari masyarakat desa Banraas, diantaranya ialah dari segi pengetahuan dan teknologi. Serta pemahaman Bahasa Indonsia masih minim banyak ansia yang tidak bisa berbahasa Indonesia hanya beberapa warga saja yang memahami Bahasa Indonesia dan remaja-remaja sudah memahami Bahasa Indonesia pengetahuan yang minimal membuat masyarakat desa banraas cenderung memiliki pola pikir yang inside the box tanpa pengembangan apapun setelahnya. Orang-orang yang memiliki pola pikir tersebut cenderung memikirkan sesuatu pranata yang simpel atau hanya sebatas gugur kewajiban. Terlebih lagi, masyarakat desa sebagian besar termasuk golongan yang introvert terhadap beberapa askep kehidupan: seperti kesehatan dan pendidikan. Mereka menganggap bahwa hal tersebut bersifat statis tanpa ada perkembangan dan tanpa standar sistem tertentu. Hal ini berdampak pada pesimistis warga yang lebih tinggi dari pada suatu masyarakat pada umumnya. Namun, melalui pengenalan lebih dalam dan pembauran lebih lanjut ke dalam masyarakat maka akan terbukti bahwa sebenarnya pernyataan tersebut tidak benar, bahwasanya masyarakat desa bisa menerima suatu perkembangan jika ada sosialisasi dan penerapan secara bertahap dari ahli atau pakar yang dapat membaur dengan masyarakat, terlebih lagi jika hal tersebut mengenai suatu hajat hidup masyarakat desa Banra’as.


0 comments:

Post a Comment