Saturday, August 6, 2016

EKOWISATA DESA BANRA’AS

EKOWISATA DESA BANRA’AS
Di desa Banraas terdiri dari berbagai tingkatan ekonomi mulai dari yang miskin, menengah, dan kaya. Profesi masyarakat di desa Banraas ini paling dominan yaitu sebagai nelayan, petani dan usaha pertokoan kecil-kecilan. Penghasilan dari nelayan bergantung dari cuaca yang terjadi di laut sekitar, semakin ombak  besar semakin mahal ikan  dijual. Jika ombak tida terlalu besar harga ikan juga murah. . Selain bekerja sebagai nelayan masyarakat desa Banraas juga bekerja sebagai petani, tanaman yang ditanam  yaitu : jagung dan kacang kayu. karena untuk media tanamnya lebih mudah. Sedangkan dalam berwirausaha, masyarakat Banraas  mempunyai toko-toko kecil, mereka berwirausaha dengan cara menjual kebutuhan sehari-hari serta warung-warung yang menjual makanan siap saji.
(Gambar 01, salah satu warga menjual ikan hasil tangkapan)
(Gambar 02, usaha pertokoan milik warga desa Banraas)
Ada pula beberapa objek wisata yang eksotis di pulau Gili Iyang yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke pulau Gili Iyang di desa Banraas kecamatan Dungkek yaitu, Gua Mahakarya, pantai ropet, fosil ikan, dan titik oksigen 2. Dan yang paling menarik di sini adalah kadar oksigen di atas rata-rata yang membuat masyarakat di sini berumur panjang lebih dari 75 tahun bahkan sampai 100 tahun
PANTAI ROPET
Pantai ropet merupakan salah satu tempat wisata yang eksotis di pulau Gili Iyang , Pantai Ropet tidak seperti pantai pada umumnya yang memiliki pasir kuning yang luas dan halus, Pantai ropet memilki tebing-tebing yang curam dan memiliki ketinggian sekitar 10-15 meter dari permukaan laut serta memiliki warna laut yang begitu biru dan sangat bersih. Pantai ropet meski tidak memiliki pasir yang halus dan kuning namun keindahannya tidak kalah bagus dengan pantai yang lain.
.
(Gambar 03, pantai ropet)


GUA MAHAKARYA
            Salah satu tempat wisata yang uni di pulau Gili Iyang tepatnya di desa Banraas tempat wisata tersebut adalah Gua Mahakarya, Asal usul gua maha karya ditemukan pada masa penjajahan belanda. Pada saat masa penjajahan Belanda, masyarakat Banraas bersembunyi di dalam gua tersebut dari kejaran tentara belanda dan diluar gua tersebut dijaga oleh babi hutan atau masyarakat jawa menyebutnya celeng, dan pada saat itu gua tersebut dinamakan gua Celeng. Gua Mahakarya sudah ada sejak zaman majapahit dan maoritas penduduk nya masih beragama budha, Nama gua celeng berubah menjadi gua mahakarya disebabkan karena setiap orang yang memasuki gua tersebut merasa kagum akan keindahan gua tersebut sehingga muncul sebuah opini dari beberapa tokoh desa bahwa gua tersebut adalah karya Ilahi yang sangat luar biasa, sehingga nama gua celeng berubah menjadi gua mahakarya.

(Gambar 04, gua maha karya)


FOSIL IKAN
            Fosil ikan adalah salah satu tempat wisata yang unik di pulau gili iyang tepatnya di desa Banra’as dusun Baru, fosil ikan ditemukan pada tahun 2010 pada pagi hari warga desa Banraas menemukan ikan paus terdampar di tepi pantai masyarakat setempat sengaja tidak memindahkan fosil tersebut dari area pada saat ikan tersebut terdampar, karena masyarakat setempat mempercayai suatu mitos jika fosil tersebit dipindahkan maka aka nada sesatu yang terjadi.
 Wisata Fosil ikan sangat unik letanya di tepi pantai dan lingkungan sekitar masih bersih dan asri, Fosil ikan ini beasal dari ikan paus yang mati terdampar di tepi pantai desa Banra’as.Ukuran fosil ikan mencapai 20 Meter.



0 comments:

Post a Comment