Saturday, August 6, 2016

INFRASTRUKTUR DESA BANRA'AS

INFRASTRUKTUR
Bangunan Sekolah/ Madrasah
Di desa Banraas terdapat tujuh sekolah/ madrasah yakni Madrasah Aliyah (MA), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Dasar (SD), Marasah Ibtidaiyah (MI).Untuk tata letak sekolah madrasah letaknya berjauhan. Dari semua bangunan sekolah tersebut kondisinya baik bisa dibilang menegah kebawah untuk prasarana msih minim seperti halnya ruang lab computer di seluruh tingkatan sekolah masih belum tersedia, hal itu terkendala dengan saluran listrik PLN belum masuk ke dessa Banraas.
   
     

Bangunan Masjid
Desa Banraas memiliki dua bangunan masjid yang digunakan sebagai tempat beribadah baik siang maupun malam. Kegiatan beribadah baik meliputi sholat maupun ngaji untuk anak-anak dan orang dewasa.





Balai Desa
Desa Banraas memiliki bangunan balai desa yang layak untuk digunakan, bangunan balai desa sangat kokoh dan memiliki lingkungan yang bersih dan asrih.Untuk berkas-berkas, perlengkapan pemerintahan desa, serta urusan administrasi lainnya berada di tempat tersebut. Masyarakat yang mepunyai keperluan yang berhubungan dengan desa ataupun kepala desa bisa langsung ke rumah kepala desa ataupun bisa langsung dilayani di balai desa Banraas.
Jalan Raya
Prasarana jalan raya/ jalan utama di desa Banraas cukup baik sepanjang jalan di desa Banraas ini masih menggunakan material paving bukan dari aspal, sedangkan jalan untuk menuju setiap dusun dibangun menggunakan semen namun keadaan jalan yang menuju dusun sudah tidak layak untuk digunakan, dikarenakan banyak terdapat lubang di sepanjang jalan.
Selain itu di sepanjang jalan belum difasilitasi dengan lampu jalan, sehingga pada saat malam hari tidak ada penerangan lampu jalan hal tersebut memicu terjadinya kecelakaan. Selain itu di pinggir jalan tidak dibangun saluran air sehingga pada saat musim hujan jalan raya sering terdapat genangan air hal tersebut menyulitkan warga desa untuk melintasi jalan raya tersebut.




Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan di Desa Banraasan bisa terbilang sangatlah minim hal tersebut dikarenakan di desa ini belum tersedia fasilitas rumah sakit maupun puskesmas, warga setempat hanya mengandalkan bidan desa di desa Banraas hanya terdapat beberapa bidan desa, jika masyarakat setempat membutuhkan pelayanan rumah sakit mereka harus keluar pulau menuj ke dungkek untuk mendapatkan pelayanan medis. Mayoritas penduduk setempat masih menggandalkan Tabib dan obat tradisional, namun seling hari ada juga petugas puskesmas yang dating ke desa untuk menyediakan fasilitas pengobatan gratis.
 













Sumber Air Bersih
Sumber air bersih di desa Banraas yaitu langsung dari sumur di desa ini ada dua jenis sumur yang pertama sumur ini menghasilkan air payau dan juga ada yang menghasilkan air tawar. Desa Banraas ini memiliki sumber yang bagus dalam mendapatkan air. Hampir setiap rumah memiliki fasilitas air bersih atau sumur tersendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Untuk kegiatan mandi, cuci kakus. Masyarakat menggunakan sumber air sumur payau unuk kegiatan onsumsi masyarakat setempat menggunakan air tawar. Masyarakat setempat tidak kesulitan untuk mendapatkan air tawar karena ada beberapa orang yang berkeiing desa unuk menjual air tawar, satu cirigen besar mereka membandrol harga sebesar Rp 1500.


EKOWISATA DESA BANRA’AS

EKOWISATA DESA BANRA’AS
Di desa Banraas terdiri dari berbagai tingkatan ekonomi mulai dari yang miskin, menengah, dan kaya. Profesi masyarakat di desa Banraas ini paling dominan yaitu sebagai nelayan, petani dan usaha pertokoan kecil-kecilan. Penghasilan dari nelayan bergantung dari cuaca yang terjadi di laut sekitar, semakin ombak  besar semakin mahal ikan  dijual. Jika ombak tida terlalu besar harga ikan juga murah. . Selain bekerja sebagai nelayan masyarakat desa Banraas juga bekerja sebagai petani, tanaman yang ditanam  yaitu : jagung dan kacang kayu. karena untuk media tanamnya lebih mudah. Sedangkan dalam berwirausaha, masyarakat Banraas  mempunyai toko-toko kecil, mereka berwirausaha dengan cara menjual kebutuhan sehari-hari serta warung-warung yang menjual makanan siap saji.
(Gambar 01, salah satu warga menjual ikan hasil tangkapan)
(Gambar 02, usaha pertokoan milik warga desa Banraas)
Ada pula beberapa objek wisata yang eksotis di pulau Gili Iyang yang menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke pulau Gili Iyang di desa Banraas kecamatan Dungkek yaitu, Gua Mahakarya, pantai ropet, fosil ikan, dan titik oksigen 2. Dan yang paling menarik di sini adalah kadar oksigen di atas rata-rata yang membuat masyarakat di sini berumur panjang lebih dari 75 tahun bahkan sampai 100 tahun
PANTAI ROPET
Pantai ropet merupakan salah satu tempat wisata yang eksotis di pulau Gili Iyang , Pantai Ropet tidak seperti pantai pada umumnya yang memiliki pasir kuning yang luas dan halus, Pantai ropet memilki tebing-tebing yang curam dan memiliki ketinggian sekitar 10-15 meter dari permukaan laut serta memiliki warna laut yang begitu biru dan sangat bersih. Pantai ropet meski tidak memiliki pasir yang halus dan kuning namun keindahannya tidak kalah bagus dengan pantai yang lain.
.
(Gambar 03, pantai ropet)


GUA MAHAKARYA
            Salah satu tempat wisata yang uni di pulau Gili Iyang tepatnya di desa Banraas tempat wisata tersebut adalah Gua Mahakarya, Asal usul gua maha karya ditemukan pada masa penjajahan belanda. Pada saat masa penjajahan Belanda, masyarakat Banraas bersembunyi di dalam gua tersebut dari kejaran tentara belanda dan diluar gua tersebut dijaga oleh babi hutan atau masyarakat jawa menyebutnya celeng, dan pada saat itu gua tersebut dinamakan gua Celeng. Gua Mahakarya sudah ada sejak zaman majapahit dan maoritas penduduk nya masih beragama budha, Nama gua celeng berubah menjadi gua mahakarya disebabkan karena setiap orang yang memasuki gua tersebut merasa kagum akan keindahan gua tersebut sehingga muncul sebuah opini dari beberapa tokoh desa bahwa gua tersebut adalah karya Ilahi yang sangat luar biasa, sehingga nama gua celeng berubah menjadi gua mahakarya.

(Gambar 04, gua maha karya)


FOSIL IKAN
            Fosil ikan adalah salah satu tempat wisata yang unik di pulau gili iyang tepatnya di desa Banra’as dusun Baru, fosil ikan ditemukan pada tahun 2010 pada pagi hari warga desa Banraas menemukan ikan paus terdampar di tepi pantai masyarakat setempat sengaja tidak memindahkan fosil tersebut dari area pada saat ikan tersebut terdampar, karena masyarakat setempat mempercayai suatu mitos jika fosil tersebit dipindahkan maka aka nada sesatu yang terjadi.
 Wisata Fosil ikan sangat unik letanya di tepi pantai dan lingkungan sekitar masih bersih dan asri, Fosil ikan ini beasal dari ikan paus yang mati terdampar di tepi pantai desa Banra’as.Ukuran fosil ikan mencapai 20 Meter.



Kehidupan Sosial Budaya Desa Banra’as
Desa Banraas kecamatan Dungkek kabupaten Sumenep. Hal yang pertama dan utama yang dapat penulis paparkan adalah dimana ketika masyarakat melakukan gotong royong, yang mana hal tersebut menjadi cerminan secara garis beras setiap masyarakat desa Banraas. Masyarakat desa Banraas biasanya saling tolong menolong dalam bidang mata pencaharian mereka sebagai nelayan. Dalam berbagai hal yang lain misalnya ketika hajatan yang dilakukan oleh seorang individu dari masyarakat warga setempat akan datang membantu.

Dari segi tokoh masyarakat yang dijadikan panutan, warga desa Banras menganut sistem kyai-sentris yang mana semua perlakuan sang kyai akan ditirukan dan ucapan yang diucapkan akan menjadi perintah bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan seorang kyai dianggap orang yang paling berjasa. Selain itu, kyai dianggap sebagai panutan yang baik untuk mengamalkan agama islam yang menjadi agama yang dominan di desa Banraas. Keberadaan kyai menjadi daya tarik yang luar biasa karena dapat menyatu dengan masyarakat dari semua golongan dan kelas sosial. Terlebih lagi, kyai dianggap sebagai seseorang yang mampu memberikan suatu solusi kehidupan yang jitu sehingga dapat menyembuhkan penyakit jiwa yang diakibatkan oleh tekanan hidup.



TRADISI
Masyarakat Desa Banra’as memiliki tradisi yang sangat unik dan tradisi tersebut masih terus brlanjut sampai saat ini, dimana masyarakat setempat melakukan pertunangan dini. Pertunangan dini bisa dilakukan sejak usia ank-anak dan hal tersebut dianggap wajar dan tidak menjadi hal yang tabu.Pelaksanaan pertunangan ini bisa diselenggarakan sampai tiga hari tiga malam dan diraikan dengan kesenian ludruk. Pada saat pertunangan bela pihak laki-laki dan perempuan dinaikan kuda dan berjalan mengelilingi desa serta diiringi dengan kesenian seronen.

MASYARAKAT BANRAAS

MASYARAKAT BANRAAS
Masyarakat Banraas memiliki sifat yang sangat ramah, yang mana mereka sangat bisa menerima masyarakat atau individu lain diluar dari komunitasnya yang berada di desa Banraas Sifat ramah ini yang menjadikan masyarakat desa Banraas dapat hidup saling berdampingan dan mudah untuk melakukan interaksi dengan kelompok maupun individu lain diluar komunitas atau masyarakat desanya.
Apabila dilihat dari segi interaksi internal dari masyarakat desa Banraas itu sendiri mereka melakukan interaksi dengan sangat baik bukan hanya dalam hal komunikasi saja namun lebih dalam hal gotong royong untuk menjalin hubungan yang baik antar mereka. Dalam hal ini penulis banyak menjumpai masyarakat desa Banraas khususnya yang bermata pencaharian sebagai petani dimana mereka sering membantu antar petani untuk melakukan dalam menanam jagung. Contohnya ketika memanen jagung. Mereka saling kerja sama ketika mulai dari memanen Jagung (mencabut tumbuhan jagung dari sawah), kemudian mengangkutnya menggunakan gerobak hingga kerumah.
Selain itu contoh hal yang membuktikan bahwa desa banraas gotongroyong sangat tinggi adalah, saat seorang warga mengadakan hajatan atau pesta pertunangan seluruh warga datang kerumah orang yang mengadakan hajatan, disana mereka bersama sama membantu untuk meracik bumbu-bumbu masakan dan menyiapkan persiapan lainnya.
Masyarakat desa Banraas tidak mengenal suatu sistem kasta yang artinya suatu komunitas atau individu tertentu memiliki hak yang lebih besar dengan cara membebankan kewajiban yang lebih terhadap komunitas atau individu yang lain yang berdampak pada terjadinya ketidak seimbangan strata sosial. Tidak ada majikan dan buruh dalam penerapan kehidupan bermasyarakat di desa Banraas. Sehingga interaksi sosial dapat terlaksana dengan sangat baik dan berlangsung secara terus menerus secara harmonis. Sehingga tujuan dari bermasyarakat maupun tujuan individual dapat tercapai secara harmonis pula.
Dalam hal mata pencaharian, masyarakat desa Banraas banyak sebagai Nelayan, namun dalam hal ini biasanya dikerjakan oleh laki-laki desa dengan usia 40(empat puluh tahun) keatas. Sedangkan dalam usia  produktif antara 20(dua puluh) tahun hingga 40(empat puluh tahun) hampir sekitar 90% merantau ke kota - kota besar seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta dan lain sebagainya untuk berdagang. Salah satu faktor yang mempengaruhi para pemuda desa Banraas untuk pergi merantau ialah lahan tanah yang hanya produktif pada saat musim hujan saja, ketika musim kemarau tiba maka lahan tersebut hanya bisa ditanami kacang-kacangan yang jika dijual keuntungannya masih kurang bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka, sehingga mereka berinisiatif untuk merantau untuk mencari nafkah yang dianggap lebih bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka dan keluarga mereka.
Namun ada beberapa kekurangan dari masyarakat desa Banraas, diantaranya ialah dari segi pengetahuan dan teknologi. Serta pemahaman Bahasa Indonsia masih minim banyak ansia yang tidak bisa berbahasa Indonesia hanya beberapa warga saja yang memahami Bahasa Indonesia dan remaja-remaja sudah memahami Bahasa Indonesia pengetahuan yang minimal membuat masyarakat desa banraas cenderung memiliki pola pikir yang inside the box tanpa pengembangan apapun setelahnya. Orang-orang yang memiliki pola pikir tersebut cenderung memikirkan sesuatu pranata yang simpel atau hanya sebatas gugur kewajiban. Terlebih lagi, masyarakat desa sebagian besar termasuk golongan yang introvert terhadap beberapa askep kehidupan: seperti kesehatan dan pendidikan. Mereka menganggap bahwa hal tersebut bersifat statis tanpa ada perkembangan dan tanpa standar sistem tertentu. Hal ini berdampak pada pesimistis warga yang lebih tinggi dari pada suatu masyarakat pada umumnya. Namun, melalui pengenalan lebih dalam dan pembauran lebih lanjut ke dalam masyarakat maka akan terbukti bahwa sebenarnya pernyataan tersebut tidak benar, bahwasanya masyarakat desa bisa menerima suatu perkembangan jika ada sosialisasi dan penerapan secara bertahap dari ahli atau pakar yang dapat membaur dengan masyarakat, terlebih lagi jika hal tersebut mengenai suatu hajat hidup masyarakat desa Banra’as.


LETAK GEOGRAFIS DESA Banra'as

LETAK GEOGRAFIS DESA
Desa Banraas adalah salah satu desa dari 2 desa yang ada di pulau Gili Iyang, kecamatan dungkek, kabupaten Sumenep. Dari pelabuhan Dungkek menuju desa Banraas penyebrangan menggunakan perahu kecil kurang lebih 1 jam. Desa Banraas memeiliki luas wilayah 3.953.332 Hektar batas wilayah Desa Banraas sebelah utara desa adalah laut,sebelah selatan berbatasan dengan Desa Bancamara, sebeLah barat dan timur berbatasan dengan laut. Desa banraas ini memiliki ketinggian 38 M dari permukaan air laut. Jarak dari pusat pemerintahan sekitar 2 Mil.
Sebelah utara               : Laut
Sebelah selatan            : Desa Bancamara
Sebelah Barat              : Laut
Sebelah Timur             : Laut

Wilayah di desa Banraas terdapat enam dusun yaitu dusun Raas barat, dusun raas timur, dusun kalompang, dusun asem, dusun baru, dan dusun bungkok. Dalam pembagian RT di desa Banraas yaitu berdasarkan dusun-dusun yang ada. Desa banraas termasuk desa dengan tanah yang subur sehingga dapat menghasilkan produk pertanian yang bagus, namun sumber air yang masih kurang memadai untuk kebutuhan sehari – hari.


Desa Banraasku, Oksigenku

GAMBARAN UMUM DESA BANRA’AS
Desa Banraasku, Oksigenku
Pulau Gili Iyang terdiri dari 2 desa yaitu salah satunya adalah  Desa Banraas. Desa ini berada di Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep pulau Gili Iyang.  Desa ini terletak pada kordinat 06 59’ 9” LS dan 114 10’ 29” BT dengan luas 921.2 Ha. Pulau Giliyang  Desa Banraas terdiri enam dusun yaitu, Dusun Kalompang, Dusun Assem, Dusun Raas Timur,  Dusun Baru, Dusun Raas Barat, Dusun Bungkok. Desa Banraas dipimpin oleh Kepala Desa atau lebih dikenal dengan Klebung yang bernama Bapak  H. Mathor, SH. 
Visi dan Misi desa Banraas:
Visi: Terwujudnya masyarakat desa Banraas, desa banraas jujur tentram makmur dan penuh dengan keadilan
Misi: Meneruskan program yang sebelumnya, mengembangkan potensi desa serta meningkatkan SDM desa.
Penduduk Desa Banraas rata-rata bemata pencaharian sebagai nelayan yang bergantung dari cuaca, jika ombak terlalu besar maka hasil tagkapan akan lebih mahal dan jika ombak tidak terlalu besar maka penjualan lebih murah. Suasana desa Desa Banraas tergolong ramah dikarenakan sifat royal, gotong royong yang terjalin antara warga sekitar sangat erat sehingga tercipta kerukunan serta persaudaraan yang erat.
Kereligiusan sangat kental di desa ini dibuktikan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang rutin dan aktif diselenggarakan setiap minggunya baik untuk warga dewasa laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Selain itu di satu desa ini terdapat beberapa yayasan keagamaan yang masih aktif terselenggara setiap sore hari.
Desa Banraas tergolong desa yang tertinggal karena beberapa fakor yang memengaruhi diantaranya desa ini yang terdapat pulau sehingga akses informasi, teknologi dan transportasi laut yang masih sangat minim. Listrik di desa ini belum terdistribusi secara optimal karena listrik tersedia hanya saat maghrib sekitar jam 18.00 sampai 00.00 WIB. Selain jam diatas warga yang ingin menikmati listrik menggunakan tenaga diesel.
Dilihat dari segi kesehatan, akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sudah tersedia namun masih terbatas, dikarenakan di desa ini belum terdapat puskesmas. Namun, untuk saran pelayanan kesehatan sudah ada dua polindes yang sering aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan dalam menunjang kesehatan desa seperti posyandu, imunisasi, serta pemeriksaan kesehatan lainnya.
Desa Banraas tergolong desa yang masih kurang maju dikarenakan desa yang berada di pedalaman pulau yang mana untuk akses ke pulau ini harus melewati penyebrangan menggunakan perahu kecil selama kurang lebih satu jam. Kondisi jalan di desa Banraas sendiri sudah baik namun belum beraspal hanya menggunakan paving sehingga sangat memungkinkan unuk diakses. Selain itu bangunan sekolah yang kondisinya sudah baik. Adapun sekolah-sekolah yang ada di desa Banraas yaitu SD, MI, MTs, dan MA.
            Harapan kepala desa kedepan untuk desa Banraas ini yaitu lebih meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) desa Banraas terutama dalam hal kecerdasan masyarakat, kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, serta pengembangan pulau wisata.

 GAMBARAN UMUM DESA BANRA’AS
Desa Banraasku, Oksigenku
Pulau Gili Iyang terdiri dari 2 desa yaitu salah satunya adalah  Desa Banraas. Desa ini berada di Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep pulau Gili Iyang.  Desa ini terletak pada kordinat 06 59’ 9” LS dan 114 10’ 29” BT dengan luas 921.2 Ha. Pulau Giliyang  Desa Banraas terdiri enam dusun yaitu, Dusun Kalompang, Dusun Assem, Dusun Raas Timur,  Dusun Baru, Dusun Raas Barat, Dusun Bungkok. Desa Banraas dipimpin oleh Kepala Desa atau lebih dikenal dengan Klebung yang bernama Bapak  H. Mathor, SH. 
Visi dan Misi desa Banraas:
Visi: Terwujudnya masyarakat desa Banraas, desa banraas jujur tentram makmur dan penuh dengan keadilan
Misi: Meneruskan program yang sebelumnya, mengembangkan potensi desa serta meningkatkan SDM desa.
Penduduk Desa Banraas rata-rata bemata pencaharian sebagai nelayan yang bergantung dari cuaca, jika ombak terlalu besar maka hasil tagkapan akan lebih mahal dan jika ombak tidak terlalu besar maka penjualan lebih murah. Suasana desa Desa Banraas tergolong ramah dikarenakan sifat royal, gotong royong yang terjalin antara warga sekitar sangat erat sehingga tercipta kerukunan serta persaudaraan yang erat.
Kereligiusan sangat kental di desa ini dibuktikan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang rutin dan aktif diselenggarakan setiap minggunya baik untuk warga dewasa laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Selain itu di satu desa ini terdapat beberapa yayasan keagamaan yang masih aktif terselenggara setiap sore hari.
Desa Banraas tergolong desa yang tertinggal karena beberapa fakor yang memengaruhi diantaranya desa ini yang terdapat pulau sehingga akses informasi, teknologi dan transportasi laut yang masih sangat minim. Listrik di desa ini belum terdistribusi secara optimal karena listrik tersedia hanya saat maghrib sekitar jam 18.00 sampai 00.00 WIB. Selain jam diatas warga yang ingin menikmati listrik menggunakan tenaga diesel.
Dilihat dari segi kesehatan, akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sudah tersedia namun masih terbatas, dikarenakan di desa ini belum terdapat puskesmas. Namun, untuk saran pelayanan kesehatan sudah ada dua polindes yang sering aktif dalam melakukan kegiatan-kegiatan dalam menunjang kesehatan desa seperti posyandu, imunisasi, serta pemeriksaan kesehatan lainnya.
Desa Banraas tergolong desa yang masih kurang maju dikarenakan desa yang berada di pedalaman pulau yang mana untuk akses ke pulau ini harus melewati penyebrangan menggunakan perahu kecil selama kurang lebih satu jam. Kondisi jalan di desa Banraas sendiri sudah baik namun belum beraspal hanya menggunakan paving sehingga sangat memungkinkan unuk diakses. Selain itu bangunan sekolah yang kondisinya sudah baik. Adapun sekolah-sekolah yang ada di desa Banraas yaitu SD, MI, MTs, dan MA.
            Harapan kepala desa kedepan untuk desa Banraas ini yaitu lebih meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) desa Banraas terutama dalam hal kecerdasan masyarakat, kesejahteraan, pengentasan kemiskinan, serta pengembangan pulau wisata.