Sunday, August 13, 2017

GOA MAHAKARYA



Goa mahakarya (goa celeng) merupakan salah satu goa yang berada di dusun Ra’as Timur desa Banraas pulau Gili Iyang, yang konon dalam cerita rakyat goa ini merupakan tempat persembunyiannya orang-orang budha dan di pintu goa dijaga beberapa ekor babi hutan atau celeng sehingga goa ini disebut oleh masyarakat Goa Celeng.
Pada tahun 2013 karena goa ini memiliki banyak keunikan baik stalagtit dan stalagmitnya yang sangat indah. Selain itu goa mahakarya juga memiliki 5 pintu, maka goa celeng ini diganti menjadi Goa Mahakarya sekaligus menjadi destinasi wisata alam di Gili Iyang. yang
Bagi pengunjung yang datang akan dikejutkan dengan bentuknya yang luar biasa mengagumkan, salah satunya hasil tetesan batu goa yang berwarna putih bersinar seperti mutiara. Selain itu, udara yang ada di dalamnya tidak membuat sesak nafas. Karena Gili Iyang sendiri memiliki kadar oksigen terbaik nomor dua di dunia. Namun, yang perlu diketahui lagi, di dalam goa memiliki dua tempat dengan suasana yang berbeda yaitu panas dan dingin. 
Panas di dalam memang membuat pengunjung berkeringat, tetapi di dalamnya luar biasa menakjubkan. Beberapa batu putih yang berbentuk unik akan menghiasi setiap perjalanan di dalamnya. Namun, di dalam goa tidak ada cahaya lampu maupun cahaya matahari yang masuk sehingga satu-satunya cara untuk melihat keindahan yang ada di dalam goa dengan membawa senter pegangan maupun senter dari HP. 
Mitos mengatakan, jika pengunjung memegang air yang akan jatuh dari batu maka satu tahun yang akan datang air tersebut tidak mengeluarkan air kembali. Baru tahun selanjutnya bisa mengeluarkan air. Mitos lain mengatakan, jangan merasa takut ketika akan masuk goa karena ketika keadaan takut dan memaksakan masuk, hal-hal yang gaib akan terjadi misalkan kesurupan.
Medan menuju Goa Mahakarya memang tidak terlalu mudah, sehingga pengunjung harus berjalan kaki untuk menuju Goa. Selain itu, jalan masuk awal ke goa sedikit sempit, sehingga di harapkan pengunjung berjalan dengan sedikit menunduk. Bagi mereka yang ingin berfoto di dalam Goa, sebaiknya memakai flash. Sama seperti nama goanya, Mahakarya yang luar biasa yang Tuhan anugerahkan kepada pulau Gili Iyang.

FOSIL IKAN


Fosil ikan ditemukan pada tahun 2010 di pinggir pantai Ban Baru Dusun Baru desa Banraas Pulau Gili lebar sekitar 4 meter. Ikan paus diperkirakan berumur 300 tahun. Menurut sejarah, keunikan morfologi ikan paus tersebut diantaranya memiliki lidah seperti naga, ekornya tidak bertulang dan terlihat seperti seekor dayung. Jumlah ruas tulang ikan sebanyak 360 ruas. Sebelum mengalami perubahan fisik akibat usia fosil yang semakin bertambah. Fosil ikan ini dipercaya masyarakat sekitar sebagai pembawa berkah.
            Posisi fosil ikan saat ini berada di pinggir pantai dengan keadaan terbuka, sehingga pendatang bisa langsung melihat maupun menyentuhnya. Ukurannya yang panjang dan besar, fosil ikan paus tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk wisatawan. Sebagai edu wisata baru di Banraas, fosil ikan kepopulerannya menyamai wisata-wisata yang ada di Banraas salah satunya pantai ropet.
Medan yang dilalui untuk menuju fosil ikan tidak terlalu sulit dan hanya berjarak 1 km dengan pantai ropet. Fosil ikan menjadi tanggung jawab penuh oleh Pok Darwis (kelompok sadar wisata) yang ada di Banraas, tetapi juga menjadi tanggung jawab masyarakat untuk merawat dan menjaganya. Adanya fosil ikan, menjadi anugerah bagi masyarakat Banraas dan masyarakat luas untuk mengenal sejarah dan bentuk fosil ikan laut lainnya.
           

Sunday, July 30, 2017

PANTAI ROPET




Pantai ropet merupakan bagian dari beberapa pantai yang ada di Banraas yang terletak di ujung timur desa Banraas, Sumenep pulau Gili Iyang yang berjarak sekitar 3 km dari pelabuhan Banraas. Nama Ropet berarti sempit, diambil dari kondisi pelabuhan yang  sempit dan berbentuk teluk. Pantai ropet memiliki keunikan-keunikan tersendiri yang sangat mengagumkan dan tidak ada dipantai-pantai lainnya, karena pantai ropet memiliki laut yang biru bersih, bibir pantainya berkarang yang terhias oleh pohon pandan, memiliki banyak rumput laut dan terumbu karang yang indah. Bahkan ketika dipagi hari, dipantai ropet dapat menikmati sunrise. Selain dari hal itu juga pantai ropet dapat dijadikan tempat memancing ketika angin  bertiup dari arah barat .
Sejak pembabatan keberadaan pantai ropet tidak lepas dari pengaruh dan perjuangan para ulama sufi dan petapa, karena pantai ropet pernah ditempati oleh seorang petapa bernama Juk Muhammad adik dari Juk Elang Wali Nor Kutubiin Somor Tengah keturunan dari Juk Zamzam. Bahkan pantai ropet merupakan cikal bakal tertulisnya Al-Qur’an Se Jimat yang ditulis oleh seorang Ulama’ Hafidz bernama KIAI SI’IM bin SIMATI bertempat tinggal dipantai ropet.





Pada akhir Tahun 2016 bertepatan tahun baru 2017 M, atas inisiatif dan perjuangan seorang pengerak wisata Oksigen Gili Iyang Yaitu Ahyak Ulumuddin yang biasa dipanggil Kiageng Ropet. Pantai ropet dibuka dan diresmikan dijadikan wisata alam sebagai menu wisata oksigen Gili Iyang.



Hari demi hari wisata pantai ropet mulai dibenahi dengan disediakannya gazebo-gazebo dari ilalang. Adanya gazebo-gazebo wisatawan dapat duduk dengan nyaman menikmati panorama laut yang menyatu dengan darat dan diiringi deburan ombak yang sahdu, apalagi ditambah menikmati snack-snack makanan khas pantai ropet. Hal ini akan mengilangkan rasa stress dan lebih berlama-lama dipantai ropet bagi pengunjungnya.



Selain gazebo yang disediakan, pantai ropet juga menyiapkan tempat berfoto dan berselfie bersama keluarga, apalagi dipagi hari wisatawan dapat menikmati sunrise dipantai ropet karena sudah disediakan spot foto “The Sunrise Of Gili Iyang” dengan Background laut lepas dan langitnya.
Pantai ropet masih begitu asri, apalagi Gili Iyang memiliki kadar Oksigen terbaik nomor dua di dunia setelah Yordania. Sehingga udara dan suasananya bisa menghilangkan stress dan suasana yang buruk pada seseorang. Siapapun yang datang dan menikmati pantainya tidak akan pernah menyesal dan mendatangkan suasana baru di hati.